Antara Nelayan dengan Nabi Khidhir dan Nabi Musa
Nelayan :
Di tepi laut yang sunyi diantara desiran angin, nyanyian camar, serta tarian pepohonan,
Aku memandangi perahuku yang sudah tua renta.
Ia bukan sekedar papan dan tali ,namun Ia adalah nafasku, tempat segala muara do'a harapan dan lelahku.
Bersama saudara-saudaraku kami menggantungkan hidup dari laut dengan Perahu kayu tua yg sudah lapuk.
Pagi itu datang orang asing, yg satu berwajah dalam, matanya seperti menyimpan rahasia langit.
Ia hanya berkata singkat "...Ingin tumpangan? ".
Aku mengangguk, tidak ada alasan untuk menolak, kecuali perasaan ganjil ( penasaran) yang kusembunyikan dengan seyum.
Dan kami pun berlayar...
Ditengah pelayaran Ia melubangi perahuku, dengan tangannya, melukai, melubangi satu-satunya harta Kami.
Air mulai merembes, hatiku patah, mataku berkaca-kaca bersamanya, ingin rasanya berteriak menangis krn luka didada. Namun lidah membeku, mulut terkunci, mereka pergi begitu saja meninggalkan Aku dan perahu bolongku.
Dalam hatiku aku menangis bertanya, "...Yaa Allah mengapa Engkau ijinkan ini terjadi....?
Jawabannya datang esok hari
Ketika datang pasukan Raja / Preman / Perampok dzolim keji sadis merampas semua perahu yang bagus - bagus.
Mereka membiarkan meninggalkan perahuku yg bolong.
Di pasir yang dingin air mataku tumpah menangis, menangis bukan karena luka, namun karena cinta, cintaNya yang kuanggap murka, ternyata perlindungan dari Nya...
Nabi Khidhir mengajariku tanpa kata "....Kadang yg aku anggap menyakitkan adalah bentuk kasih sayang Tuhan.... ".
Sejak itu Aku tau
Jika suatu hari kamu merasa hatimu berlubang (sedih, kecewa, luka) oleh taqdir, bisa jadi Tuhan sedang menjauhkan dirampasnya Kapal kehidupanMu.....

Komentar
Posting Komentar